Agenda Pesta HUT Ke 167 Sidoarjo Tahun 2026
Agenda Pesta : Pasti Meriah !!! Rangkaian Acara HUT Kabupaten Sidoarjo Ke 167
Wajah Lama Dan Wajah Baru Sidoarjo
Sidoarjo, 11/01/2025
Gelar
kegiatan pesta rakyat, dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167
tahun 2026, mulai diluncurkan jadwalnya awal Januari ini. Kabupaten
terkaya ketiga di Jawa Timur dengan rata-rata APBD lebih dari 6 Trilyun
per tahun ini menggelar pesta ulang tahun nya dengan mewah.
Baca Lebih Lengkap Di Situs Berita News Corner
Lihat Link Lengkap Di Bawah Ini
http://www.news-corner-kota-batu.domainnews.biz.id/2026/01/pasti-meriah-rangkaian-acara-hut.html
Tema HUT Sidoarjo ke 167 kali ini mengusung tema keterbukaan dan ketangguhan Sidoarjo,
“INKLUSIF BERKELANJUTAN, SIDOARJO TANGGUH.”
Berbagai
acara pesta ulang tahun pun diagenakan akan digelar selama 4 bulan,
mulai dari pertengahan bulan Januari ini sampai bulan April 2026 yang
akan datang.
Pesta ulang tahun ini dirangkai dengan berbagai
kegiatan sosial, budaya, keagamaan, olah raga, dan hiburan yang
melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dengan tajuk pesta untuk rakyat.
Berikut adalah rangkaian agenda acara gebyar HUT Sidoarjo ke 167
Gebyar Diskon (10 Januari–9 Februari 2026)
Skrining Katarak (14 Januari 2026)
Khitan Massal di Pendopo Delta Wibawa (20 Januari 2026)
Khitan Massal di RSUD Sidoarjo Barat (22 Januari 2026)
Live Talk Show Hari Jadi ke-167 (23 Januari 2026)
Ziarah Makam Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo (26 Januari 2026)
Tasyakuran Hari Jadi ke-167 (30 Januari 2026)
Upacara Hari Jadi ke-167 (31 Januari 2026)
Resepsi Hari Jadi ke-167 (31 Januari 2026)
Tanggulangin Fair (30–31 Januari 2026)
Sedekah Tumpeng Tempe di Desa Sedengan Mijen (1 Februari 2026)
Doa Bersama 1.000 Anak Yatim (1 Februari 2026)
Semaan Al-Qur’an dan Dzikirul Ghofilin (6 Februari 2026)
Pagelaran Wayang Kulit dan Festival Seni Budaya (7 Februari 2026)
Nyadran di Desa Balongdowo (8 Februari 2026)
Sidoarjo Bersholawat dan Tabligh Akbar bersama Gus Iqdam (10 Februari 2026)
Grand Final Gus Yuk Cilik (11 April 2026)
Jayandaru Run Festival (19 April 2026)
Pesta Rakyat (25 April 2026)
Kabupaten
Sidoarjo, adalah salah satu kawasan ekonomi penting di Jawa Timur. Usia
sebenarnya jauh lebih tua dari angka 167 tahun yang ditetapkan oleh
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Jejak Raja Airlangga Dan Kerajaan Jenggala
Kawasan Sidoarjo, pada rentang sejarah 900 an tahun yang lalu, mencatat dengan tinta emas, kebesaran Kerajaan Airlangga. Kerajaan Jenggala adalah kerajaan penting yang meneruskan kebesaran Raja Airlangga. Bersama kerajaan Panjalu (Kediri), kedua kerajaan penting, sebelum Majapahit itu, mencatat kesejahteraan rakyat yang luar biasa.
Kisah
cinta Panji Asamarabangun dan Candra Kirana adalah kisah cinta yang
terkenal antara keturunan dari Raja Airlangga, yang kemudian diteruskan
tradisinya ke Kerajaan Majapahit, setelah Raja Hayam Wuruk kehilangan
Dyah Pitaloka dari Pakuan Pajajaran yang menghilang di alam Dwi Pantara
dalam adu konflik strategi di lapangan Bubat yang berakhir dengan
tewasnya keluarga Gajah Mada dan moksa nya Patih besar itu di alam dwi
pantara.
Belanda yang datang mencengkeram Nusantara, kemudian,
meneliti kisah Panji dan Candra Kirana ini, membuat rangkaian palsu
analisis konflik politik di Lapangan Bubat pada Masa Majapahit, kemudian
membelokkan cerita indah penuh misteri Hayam Wuruk Dyah Pitaloka itu,
dalam kerangka cerita Perang Palsu Perang Bubat. Cerita Perang fiksi
yang dibuat oleh Belanda untuk menghalangi perjuangan Sultan Herucakra
Pangeran Diponegoro.
Sampai saat ini masih banyak warga yang menganggap Perang Bubat adalah sebuah peperangan fisik yang berdarah-darah. Tidak menyadari bagaimana itu adalah strategi devide et impera yang digunakan oleh Belanda yang ingin memecah unsur Barat Kesundaan dan Ke Jawa Timuran yang menurut Prabu Jayabhaya adalah unsur terpenting dalam membangkitkan dan mensejahterakan Nusantara.
Unsur yang kemudian direduksi untuk bisa diterima secara luas dalam kerangka kisah melodrama Janggala Dan Panjalu. Yang bahkan jejak cerita itu pun direplikasi di sebuah wilayah Majalengka yang berarti Wilwatikta, Majapahit, yang menggunakan istilah Janggala (Ciamis) dan Panjalu yang merujuk ke daerah Tasikmalaya, Garut, dan Bandung, bahkan hingga Cianjur dan Sukabumi.
Janggala
dan Panjalu bukan hanya merujuk ke wilayah geografis Sidoarjo dan
Kediri di Jawa Timur. Akan tetapi Janggala dan Panjalu juga merujuk ke
wilayah Ciamis dan Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur, Sukabumi.
Peran Penting Sidoarjo Atas Tewasnya Saudara Kandung Penghancur Kota Baghdad, Ku Balai Khan - Hulagu Khan
Bukan
hanya di cerita Airlangga terkait kisah Janggala Panjalu saja. Peran
Sidoarjo juga tercatat sangat penting dalam sejarah dunia.
Sidoarjo juga menjadi wilayah yang mencatat sejarah tewasnya Raja paling kejam di Asia, Ku Balai Khan.
Cucu Jengis Khan yang terkenal kejam, penakluk Asia dan Raja koruptor di Dinasti Yuan itu, dihancurkan di wilayah yang saat ini adalah wilayah Tarik, Sidoarjo.
Daerah yang berbatasan dengan Mojokerto itu menjadi saksi Ratusan ribu tentara Dinasti Yuan yang meregang nyawa di tangan para panglima Perang pendiri Majapahit.
Ranggalawe,
Nambi, Lembu Sora, bersama Dyah Wijaya menghancurkan ratusan ribu
pasukan Dinasti Yuan itu di lokasi bersejarah Tarik, yang saat ini
berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Kematian Ku Balai Khan di wilayah
Tarik, Sidoarjo, di tangan para Panglima perang Majapahit ini
digambarkan dengan sangat dramatis di Kidung Harsawijaya,
yang bahkan naskah asli Kidung ini saat ini ada di Perpustakaan Leiden
Belanda. Dirampas oleh Belanda pada masa Penjajahan Belanda. Misteri
tewasnya Ku Balai Khan yang bahkan disembunyikan oleh Naskah Istana
Dinasti Yuan China itu dibongkar dengan terang di Kidung Harsawijaya.
Dan Ku Balai Khan pun tewas di tangan para Panglima Perang calon
Kerajaan Majapahit di Tarik.
Tewasnya Ku Balai Khan ini berjarak kurang lebih 4 windu dari penghancuran kota Baghdad yang dilakukan oleh adik Ku Balai Khan, Hulaghu Kan. Kehancuran Ku Balai Khan dan ratusan ribu pasukannya, seperti menjadi tanda pembalasan atas ratusan ribu warga Baghdad yang dibunuh oleh Hulaghu Khan.
Baghdad berterima kasih atas pembalasan penumpahan ratusan ribu darah warga, yang dilakukan oleh satu wilayah di Sidoarjo, dengan jumlah tentara Dinasti Yuan yang tewas juga mencapai ratusan ribu tentara.
Catatan
istana Dinasti mencatat bahwa hanya tinggal 10 ribu pasukan saja yang
kembali membawa kekalahan yang menyakitkan dari Jawa. Beberapa bulan
kemudian tubuh Ku Balai Khan yang telah menjadi mayat pun dikirimkan ke
China. Setelah mayatnya diterima, barulah kematian Ku Balai Khan
diumumkan ke publik. Catatan istana mencatat delay waktu kematian Ku
Balai Khan dan pengumuman kematian raja besar Asia itu berjarak 6 bulan
lebih. Tanpa melakukan perincian bahwa mayat raja itu dikirimkan oleh
Mahapahit setelah berdiri, pasca kemenangan dari Tentara China. Akan
tetapi pertanyaan tersebut terjawab oleh Kidung Harsawijaya di
Perpustaan Leiden Belanda.
Peran Sidoarjo Pada Masa Dewan wali, Wali Sangga, (Wali Songo) Sampai Perang Diponegoro
Setelah Majapahit berdiri, Sidoarjo juga menjadi saksi sejarah karya penting Dewan Wali untuk Nusantara. Peran penting Sidoarjo pada Dewan Perwalian ini adalah mendorong kerja-kerja penting Dewan Wali, Wali Sangga, Wali Songo.
Wali utama dari Dewan Perwalian yang berjumlah eka sapta. Susunan eka sapta ini terdiri dari 2 wali utama (wali kutub, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga, dalam dua periode tugas) dan 7 wali pendukung, sehingga berjumlah 9 anggota utama. Anggota Dewan wali sendiri berjumlah belasan anggota Dewan Wali, bukan hanya 9 anggota dewan wali utama saja.
Karya
penting Dewan Wali atau Wali Sangga ini membantu menyiapkan dan
memperkuat jiwa dan mental Nusantara dalam menghadapi masa-masa berat
Penjajahan Belanda, sambil menunggu masa kesuksesan Nusantara pasca
Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri
adalah salah satu dari keluarga Dewan Perwalian, Wali Sangga, dengan 9
anggota wali utama (wali songo), yang makamnya saat ini ada di Sidoarjo.
Makam Dewi Sekardadu saat ini menjadi salah satu destinasi kota dengan
ratusan sungai itu.
Sidoarjo juga mencatat jejak karya Sunan
Gunung jati dari Cirebon, salah satu anggota utama dari Dewan Wali, Wali
Sangga (Wali Songo) dalam memperkuat sendi sendi masyarakat Nusantara
Jawa Timur. Karya Sunan Gunung jati ini lah yang kemudian menginspirasi
berdirinya salah satu Pondok Pesantren tertua di Indonesia, Pondok
Pesantren Siwalan Panji, Al Hamdaniyah, yang berdiri 40 tahun sebelum
lahirnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1780-an. Dalam perang Diponegoro
Pomdok Pesantren di Sidoarjo ini menjadi saksi pendukung perang
Pangeran Diponegoro.
Pondok
Pesantren Al Hamdaniyah ini adalah cikal bakal dari Pondok Al Khoziny
yang beberapa waktu lalu, roboh dengan puluhan santri meninggal. Pondok
Al Khoziny menjadi duta ribuan pondok pesantren di seluruh Indonesia
yang selama bertahun-tahun tak pernah dilirik oleh negara. Setelah
robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny dan syahidnya puluhan santri kecil
itu, Presiden Prabowo meminta audit seluruh bangunan Pondok Pesantran di
Seluruh Indonesia. Sebuah kegiatan yang bahkan sejak Republik ini
berdiri tidak pernah dilakukan. Robohnya Pondok Pesantran Al Khoziny
membuat pemerintah dan negara menjadi terkejut, karena ternyata ratusan
bahkan puluhan ribu lokasi pendidikan warga negara itu tak pernah
diperhatikan selama ini oleh negara dan oleh pemerintah.
Robohnya
Pondok Pesantren Al Khoziny menandai berubahnya sikap negara kepada
lebih dari 10 juta santri di seluruh Indonesia yang bahkan tidak pernah
tersentuh dana BOS dari APBN. Dari 67 Trilyun dana Bos, 10 juta santri
hanya diberikan dana beberapa ratus milyar saja, sebuah catatan
statistik yang miris. Catatan yang bahkan dibuat oleh pemerintah
sendiri, diumumkan secara resmi oleh Kementerian Agama dan dicacat resmi
dalam catatan Biro Statistik Negara.
Pemerintah pusat yang abai
terhadap pendidikan santri ini, terbongkar kesalahannya, setelah
robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny. Barangkali di masa depan, dana
BOS, akan dikucurkan juga, kepada jutaan santri, yang menuntut ilmu,
yang seharusnya menjadi amanah negara dalam mencukupi dan membiayai
pendidikannya. Sebuah tugas yang bahkan sudah menjadi amanah konstitusi
untuk dilaksanakan oleh negara. Selama ini, saat negara melupakan
pendidikan dari jutaan santri ini, tak ada satupun yang mengingatkan.
Pelanggaran parah konstitusi ini dibongkar oleh roboh nya Ponpes Al
Khoziny Sidoarjo, meski untuk mengingatkan kesalahan pemerintah dan
negara itu Ponpes Al Khoziny berkorban syahid puluhan santri kecilnya
yang sedang menuntut ilmu untuk kejayaan bangsa dan negara.
Peran Penting Dalam Perang Kemerdekaan
Setelah menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro, Sidoarjo juga kembali menjadi lokasi penting dan saksi utama dalam Perang Kemerdekaan.
Dua
Jendral utama Sekutu, satu jenderal Angkatan Darat Inggris, Dan Satu
Jenderal Angkatan Udara, yang tewas di Surabaya, membuat berkobarnya
Perang 10 November 1945. Sidoarjo kembali menjadi lokasi strategis yang
membuat arek-arek Surabaya berhasil menahan Pasukan Sekutu dalam Perang
panjang yang berakhir dengan mundurnya semua pasukan Sekutu dan juga
pasukan Kolonial Belanda.
Pondok
Pesantren Al Hamdaniyah Siwalan Panji, adalah salah satu saksi sejarah dalam
implementasi dan realisasi Fatwa Jihad yang diserukan oleh Hadratus
Syeh, K.H. Hasyim Asyhari. Fatwa Jihad ini adalah salah satu fatwa
penting yang mengawal perjuangan mempertahankan Kemerdekaan.
Peran
dan posisi penting Sidoarjo yang bahkan sudah dicatat sejarah sejak
lebih dari 850 tahun yang lalu itu, jauh melampaui usia 167 tahun, yang
saat ini dirayakan bersama rakyat di seluruh Sidoarjo. Sebenarnya bukan
167 tahun usia Sidoarjo dalam sejarah akan tetapi bahkan lebih dari 850
tahun yang lalu, atau bahkan mendekati 900 tahun yang lalu.
Posisi
Sidoarjo yang stabil dan bisa memakmurkan masyarakat menjadi sebuah
pilar penting Jawa Timur yang sejahtera dan juga unsur utama Nasional.
Mungkin perlu meninjau kembali waktu berdirinya Sidoarjo, bukan 167
tahun yang lalu, mungkin jauh lebih lama lagi, 850 tahun yang lalu, atau
bahkan 900 tahun yang lalu. (TNTW)


Komentar
Posting Komentar